Saturday, July 1, 2023

MENGENALI DIRI, MEREGULASI EMOSI, DAN MENINGKATKAN RESILIENSI

MENGENALI DIRI, MEREGULASI EMOSI, DAN MENINGKATKAN RESILIENSI
Oleh: Alan Samsul Maruf_1216000012

Dewasa ini kita bisa menyaksikan dan merasakan bagaimana modernisasi berkembang begitu cepat, hal tersebut menyebabkan arus globalisasi tidak bisa di hindarkan karena di tunjang dengan kemajuan teknologi yang pesat. Kemajuan tersebut membuat individu semakin kritis, berwawasan, pandai dan penuh dengan kaingin tahuan (Ruswahyuningsih & Afiatin, 2015). Sayangnya kemajuan itu juga disisi lain berdampak kepada kemampuan individu yang menurun dengan mentalitas yang lemah karena kemudahan dan kecepatan akses yang di tawarkan membuat individu lebih mudah merasa tertekan ketika di hadapkan dengan kesulitan.

Sejatinya memang setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan. Selain itu kesulitan juga sangat mungkin terjadi pada waktu dan tempat yang sukar diprediksi, di saat-saat tertentu acapkali kesulitan datang tanpa bisa dihindari. Seorang individu yang mempunyai resiliensi tinggi tentu akan berusaha untuk mengatasi permasalahan yang ada, ia bakal melakukan usaha untuk mencari penyelesaiain sampai masalah tersebut terselesaikan. Resiliensi dapat diartikan sebagai kemampuan diri untuk kembali bangkit dari situasi yang tidak mudah (Ruswahyuningsih & Afiatin, 2015). Dengan adanya resiliensi individu dapat menyulap suatu permasalahan menjadi sebuah tantangan.

Seseorang yang dikatakan resilien akan mampu meregulasi emosi, mengarahkan atensi supaya fokus terhadap masalah, dan menyelesaikannya dengan sebuah tindakan yang tepat (Widuri, 2012). Proses regulasi emosi mengarahkan individu terhadap pertanyaan mengapa dan bagaimana emosi yang ada dalam diri bisa memengaruhi kondisi psikologis. Di satu sisi emosi memang dapat di lihat sebagai sesuatu hal yang diatur, namun di sisi lain emosi juga dapat menjadi pengatur dalam diri individu. Emosi sebagai sesuatu hal yang di atur berkaitan dengan jenis emosi yang aktif dan berubah-rubah sehingga perlu ada kontrol untuk mengatur emosi tersebut supaya terkendali dan tidak membawa dampak negatif, sementara itu emosi yang menjadi pengatur lebih diartikan sebagai emosi yang menjadi sebab individu merasakan sedih, senang, marah, bahagia, atau kecewa. Semakin baik regulasi emosi yang ada pada diri individu maka akan berdampak pula kepada meningkatnya resiliensi individu tersebut.

Komponen resiliensi dapat di interpretasikan menjadi tiga bagian penting, diantaranya adalah memiliki rasa dasar yang sama, memiliki self worth dan self esteem, dan memiliki self efficacy. Pertama memiliki rasa dasar yang sama, dengan hubungan tipe keterikatan dan rasa yang sama orang-orang dapat diandalkan dan responsif karena memiliki atensi yang lebih terlihat. Pentingnya hal-hal kecil, rutinitas dan aktivitas sehari-hari, rutinitas yang familiar seperti tentang makan, cerita tidur, bangun, keluar dengan keluarga atau orang yang di sayang, bisa menjadi sumber penting dari urutan pertama resiliensi. Komponen kedua menjelaskan bahwa self esteem terdiri dari dua pengalaman penting, yaitu hubungan cinta yang aman dan harmonis dan  keberhasilan dalam menyelesaikan tugas yang diidentifikasi oleh individu yang penting bagi kepentingan mereka. Self esteem adalah efek sekunder dari kondisi dan pengalaman hidup positif. Komponen ketiga adalah rasa self-efficacy. Seorang individu harus memulai pada titik tertentu dan mengerahkan beberapa kapasitas pengendalian, daya tarik, dan pengambilan keputusan dalam hidupnya sendiri. Resiliensi kemungkinan besar berbeda antara yang ada pada diri satu orang dengan yang lainnya. Tapi akan tampak berbagai campuran karakteristik disposisi dan situasional.

Selain dari ketiga komponen tersebut, resiliensi juga memiliki dua faktor pendorong yakni  faktor individu yang berasal dari dalam dan faktor lingkungan yang berasal dari luar. Faktor individu yang berasal dari diri berfungsi mengontrol perusakan dan mengarahkan pada konstruksi positif oleh diri. Sementara itu faktor kedua bisa berasal dari lingkungan dan berfungsi sebagai konstruksi sosial yang menjadi sumber tumbuhnya resiliensi (Uyun, 2012).

Lebih jauhnya resiliensi dipengaruhi juga oleh dua penyebab atau faktor lain, yakni faktor resiko atau risk-factor dan faktor pelindung atau protective factor (Pan & Chan, 2007). 

1. Faktor yang pertaman adalah Risk factor atau faktor yang bisa menimbulkan resiko yang rentan terhadap tekanan. Gagasan ini menyebut bahwa terdapat kemungkinan yang bisa terjadi karena pengaruh dari kondisi tertentu dan menyebabkan ketidak mampuan individu dalam menyesuaikan diri.
2. Faktor yang kedua adalah Protective factor atau faktor pelindung, faktor ini berguna untuk menjaga dan melindugi individu dari pengaruh buruk lingkungan yang berkaitan dengan resiliensi. Konsep  yang kedua ini meliputi ciri khas individu, lingkungan sosial di rumah, dan hubungan sosial di luar rumah.




REFERENSI
Pan, J. Y., & Chan, C. L. W. (2007). Resilience: A new research area in positive psychology. Psychologia, 50(3), 164–176. https://doi.org/10.2117/psysoc.2007.164
Ruswahyuningsih, M. C., & Afiatin, T. (2015). Resilience in Javanese youth (Resiliensi pada remaja Jawa). Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP), 1(2), 96–105.
Uyun, Z. (2012). Resiliensi Dalam Pendidikan Karakter. Prosiding Seminar Nasional Psikologi Islami, 200–208. https://publikasiilmiah.ums.ac.id/handle/11617/1769?show=full
Widuri, E. L. (2012). Regulasi Emosi Dan Resiliensi Pada Mahasiswa Tahun Pertama. HUMANITAS: Indonesian Psychological Journal, 9(2), 147. https://doi.org/10.26555/humanitas.v9i2.341

0 comments:

Post a Comment